Senin, 01 Juli 2013

Kenangan tak Terlupakan 2


...................Dengan bergegas Cindy pun mulai ikut melepaskan pakaian tidur saya satu persatu hingga kami berdua sama-sama telanjang tanpa sehelai benang pun yang menutupi badan kami. Karena masih dalam musim dingin kami mulai merasa kedinginan, sekalipun badan kami masih di bawah selimut. Saya merengkuh badan Cindy dan memeluknya dengan erat sehingga kami dapat merasakan kehangatan badan kami satu sama lain. Kami kembali berciuman dan puting susu kami saling bergesekan yang memberikan sensasi tersendiri yang membuat kami berdua menjadi lebih terangsang.

Ciuman saya mulai berpindah ke leher Cindy yang putih dan cukup jenjang dan juga sangat menggoda libido untuk menciuminya. Saya mulai menciumi dan menjilati lehernya yang sexy itu. Tangan saya pun mulai kembali menggeranyangi payudara Cindy dengan meraba-raba dan meremas daging yang kenyal dan hangat itu. Cindy mulai kembali terangsang dan megerang, terlebih ketika saya mulai memainkan puting susunya dengan memijat dan memutar-mutarnya. Putingnya terasa makin mengeras dan membengkak di antara jari-jari saya.

Ciuman saya berpindah naik ke daun telinganya yang mulai saya ciumi dan saya jilati bagian dalamnya. Begitu lidah saya menyentuh telinga bagian dalamnya, napas Cindy makin memburu dan terengah-engah. Setelah beberapa saat saya mainkan lidah saya di bagian dalam telinganya, saya rasakan badan Cindy mengejang beberapa saat untuk kemudian melemah. Saya yakin Cindy telah mengalami klimaksnya yang pertama, tapi saya tidak berhenti sampai di situ. Saya ingin pagi itu menjadi hari yang tidak pernah terlupakan bagi Cindy. 

Lantas ciuman saya berpindah ke arah payudaranya. Menciumi payudaranya yang kenyal sambil sebelah tangan saya tetap memainkan payudaranya dan juga putingnya yang sebelah lagi. Cindy mulai terangsang kembali ketika saya mulai menciumi dan menggigit perlahan payudaranya yang kenyal itu.

Perlahan-lahan lidah saya mulai saya julurkan dan menjilat putingnya yang sudah sangat mengeras. Cindy menjerit kecil ketika lidah saya menyentuh puting susunya dan mulai terengah-engah ketika saya mulai menjilatinya berulang-ulang dengan intens.
Aahh.. Sayang, jangan berhenti. Uugghh.., enak sekali Sayang. Aagh..!
Mendengar rintihannya, nafsu saya makin besar untuk memberikan kepuasan pada wanita yang sangat saya cintai ini.

Putingnya yang berwarna pink dan sudah mengeras mulai saya hisap perlahan dan makin lama makin dalam yang membuat Cindy makin menjerit dan terengah-engah serta mengerang tidak karuan. Semuanya makin menjadi ketika saya mulai menggigit-gigit putingnya dengan lembut. Yang saya kira Cindy akan merasa sakit karena untuk pertama kalinya puting susunya digigit, ternyata malah sebaliknya. Dia menekan kepala saya lebih dalam ke payudaranya dan memohon saya untuk menggigit putingnya lebih keras.

Takut dia akan merasa sakit, tangan saya yang sedang bermain dengan payudara dan putingnya yang sebelah kanan saya arahkan ke selangkangan Cindy yang saya yakin sudah amat basah dengan maksud untuk menambah rangsangan pada Cindy. Dugaan saya benar. Vagina Cindy sudah basah kuyup dengan lendir kewanitaannya yang keluar akibat dari orgasmenya yang pertama dan rangsangan-rangsangan yang masih dirasakannya. Saya ingin sekali mencicipi lendir kewanitaan Cindy, tapi saya ingin membuat lendir itu lebih banyak lagi.

Jilatan di puting payudara Cindy makin sering saya lakukan bergantian dengan gigitan-gigitan lembut dan kasar, dan kali ini ditambah dengan jari-jari saya yang menari di antara bibir-bibir vaginanya. Uugh.. sangat lembab dan hangat vagina Cindy di jari-jari saya, tapi juga begitu sensual yang saya rasakan. Jari telunjuk saya menari berputar-putar di sekitar dan di depan lubang vagina Cindy yang tidak henti-henti mengeluarkan lahar panasnya.

Saya gemas sekali dan ingin cepat-cepat turun ke bawah mencicipi lendir kewanitaannya. Tapi saya juga tahu kalau Cindy ingin mencapai orgasme keduanya dan saya tidak tega untuk menghentikannya dan itu tidak mungkin saya lakukan kepada wanita yang saya cintai ini. Sambil tetap menjilati dan menggigit puting susunya secara bergantian, ujung jari telunjuk saya mengambil cairan lendir kewanitaannya untuk kemudian saya taruh di klitorisnya dan jari telunjuk itu mulai saya mainkan dengan membuat gerakan melingkar di atas klitoris Cindy.

Reaksi Cindy seperti yang sudah saya bayangkan sebelumnya bahwa dia akan menjerit menerima kocokan telunjuk saya di klitorisnya.
Aaghh.. Sayang, apa yang kamu lakukan..? Ouughh.., just dont stop it.. Aacch..!
Badan Cindy mulai bergelinjang dengan hebat dan permainan lidah saya mulai saya tingkatan menjadi hisapan-hisapan dan gigitan yang dalam pada puting payudara Cindy. Cindy begitu terangsang sampai menarik kepala saya lebih dalam ke payudaranya dan juga menjepit jari-jari saya yang ada di selangkangannya.

Aacchh.. Sayang..! Cindy menjerit panjang sambil menaikkan pantat dan pinggulnya bersamaan dengan mengalirnya lahar panas dari vaginanya yang turun membasahi jari-jari saya.
Saya tarik jari-jari itu dari selangkangan Cindy dan saya jilat jari telunjuk saya yang basah oleh lendir orgasme Cindy.
Saya bisikkan kata-kata mesra di telinga Cindy yang sedang terengah-engah dan mencoba mengatur napasnya kembali.
You taste so nice, darling..! sambil saya ciumi telinga dan leher Cindy. 

Beberapa saat kemudian Cindy menggeliat karena helaan napas saya di telinganya. Vagina saya mulai terasa sensitif, basah dan membengkak menahan keinginan saya untuk dicumbu oleh Cindy. Tapi saya tahu bahwa Cindy belum mahir atau mungkin belum tahu caranya. Tapi sialnya, Cindy menjamah vagina saya dengan jari-jarinya yang membuat saya sedikit terkejut dan mengejang menerima sentuhannya. Cindy pun ternyata kaget mendapati vagina saya sudah bengkak dan sangat basah.

Sayang, punya kamu udah basah banget kaya vagina Cindy. Boleh ngga Cindy lakuin kaya yang kamu lakuin ke Cindy tadi..? Please..?
Boleh, asal memang kamu juga mau ngelakuinnya dan bukan cuman karena pengen nyenengin saya.
Kok kamu ngomongnya gitu sich, Sayang. Kalau Cindy mau ngelakuin yach karena Cindy sayang sama kamu dan Cindy cuman mau kamu ngerasain senang cuman dari Cindy seorang dan bukan dari orang lain.

Cindy tidak lagi menunggu jawaban saya, tapi langsung menyambar mulut saya dan melumat bibir saya dengan penuh nafsu. Ternyata Cindy seorang Quick Learner karena ciuman, lumatan dan hisapan lidahnya di dalam mulut saya begitu merangsang dan saya tidak sanggup untuk menunggu lebih lama lagi. Tangan Cindy saya raih dan saya letakkan di payudara saya. Cindy mengerti maksud saya.

Sambil menghisap lidah saya, Cindy mulai meremas payudara saya dan memainkan kedua puting saya bergantian.
Uughh.. ach.. Sayang, please..! Bite my nipples, please..!
Cindy langsung menurunkan mulutnya untuk kemudian melumat puting payudara saya yang sudah benar-benar mengeras.
Ach.. Sayang, oh ya Sayang..! kata-kata itu berulang kali saya ucapkan ketika mulut Cindy mulai menjilati dan menghisap dalam puting payudara saya bergantian dengan gigitan-gigitannya.

Akhirnya saya benar-benar tidak kuat untuk menahan orgasme saya, tapi hal itu tidak boleh terjadi karena saya ingin mencapai klimak saya bersamaan dengan Cindy. Lalu Cindy saya tarik ke atas dan saya rebahkan badannya sehingga saya berada di atasnya lagi. Saya tatap wajah Cindy yang imut-imut dan menggemaskan itu.
Kok kamu berhentiin saya? Saya yakin kamu belum mendapatkan kepuasan seperti yang saya rasakan tadi kan? Kenapa? Ngga enak yach permaianan saya?
Wajah Cindy benar-benar menggemaskan saya karena dia begitu terheran-heran melihat saya menghentikan aktivitasnya.

Sayang, kamu hampir bikin saya nyampai klimaks, tau ngga..?
Trus..? Kok kamu minta Cindy berhenti..?
Saya tuch ngga mau klimaks sendirian, saya pengen kita sama-sama ngerasain klimaks.
Tapi Cindy kan udah dua kali kamu bikin klimaks, sedangkan kamu sekali aja belum. Ive been unfair to you.
Who cares about being fair? Saya sayang kamu Cind, ngeliat kamu senang itu udah bikin saya senang. Kamu senang ngga dengan semua yang saya lakuin ke kamu tadi?

Cindy tidak langsung menjawab tapi langsung melumat bibir saya dan memasukkan lidahnya ke mulut saya untuk kemudian menghisap lidah saya.
Itu tanda terima kasih saya dan jawaban saya kalau saya tuch sukaa.. banget dan saya pasti bakalan ketagihan. Gimana kalau saya tiap malam minta kamu ngelakuin semua itu ke saya? Apa kamu sanggup?
Cindy tertawa-tawa sambil mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda saya. Wah.., ternyata dia belum tahu tentang tingginya nafsu sexual saya, kata saya dalam hati.

Kalau ternyata kamu yang kewalahan dalam menuhin keinginan sexual saya gimana? tanya saya balik pada Cindy.
Ahh.. saya tidak mungkin kewalahan karena saya pasti akan menikmati semuanya sama kamu. jawab Cindy dengan gaya yang dibuat-buat sedikit sombong dan membuat saya makin gemas melihatnya.

Tanpa berkata-kata lagi, bibir Cindy langsung saya lumat kembali di dalam mulut saya dan lidah saya mulai saya julurkan ke dalam mulutnya untuk mencari lidahnya. Akhirnya lidah kami saling melumat, menghisap dan mengait-ngait yang membuat napas kami mulai memburu karena menahan rangsangan-rangsangan yang hebat supaya kami tidak mencapai orgasme terlalu cepat. Badan saya masih berada di atas badan Cindy dan ciuman saya turun beralih ke payudara Cindy. Saya begitu menyukai puting dan payudara Cindy yang di mata saya sangat sexy dengan paduan yang serasi antara putingnya yang berwarna pink dengan kulitnya yang putih.

Tidak bosan-bosannya saya mencium, menjilat, menghisap dan mengigit puting payudara Cindy yang tanpa saya sadari menjadi bagian sensitif bagi Cindy setelah vaginanya. Cindy mulai mengerang-ngerang dan menjerit kembali ketika lidah saya mulai menjilati putingnya silih berganti dengan hisapan dan gigitan. Tangannya sudah mulai mengacak-ngacak rambut saya dan menekan kepala saya ke payudaranya agar saya muali mgenggigit lebih keras putingnya.

Sambil mencumbu payudaranya yang indah, tangan saya turun ke selangkangan Cindy dan merentangkan kedua pahanya sehingga Cindy dalam keadaan mengangkang dan badan saya ada di tengah kedua pahanya yang terbuka lebar. Melihat Cindy yang sudah mulai sangat terangsang, ciuman saya mulai beralih turun dan satu persatu saya mulai menciumi perut dan terus ke bawah.

Cindy sudah mulai dapat mengatur napasnya kembali ketika mulut saya sudah menjauhi kedua payudaranya dan beralih ke daerah perutnya. Setiap badan Cindy saya nikmati dan menciuminya lembut dan menjilatnya sampai ke pangkal pahanya. Napas Cindy mulai tidak teratur ketika saya mulai menjilati selangkangan Cindy tanpa menyentuh vaginanya sedikit pun. Saya sapu lidah saya berulang-ulang, naik-turun di selangkangannya silih berganti kanan dan kiri.

Vagina Cindy ditumbuhi bulu-bulu yang cukup lebat yang terlihat sudah sangat basah dan lembab oleh lendir kewanitaannya. Bau khas lendir kewanitaanya sudah sangat menggoda keinginan saya untuk menenggelamkan seluruh wajah saya di situ, tapi saya ingin Cindy benar-benar terangsang dan menginginkan saya lebih dari segalanya. Maka saya tahan keinginan saya itu dengan tetap menjilati selangkangannya dan juga memegang tangan Cindy yang berusaha mengarahkan kepala saya ke vaginanya.

Sayang, apa yang kamu lakukan..?
Ooh.. please, ciumin memek saya Sayang..!
Please, suck my clit, please Sayang..!
Fuck me, oohh.. please Sayang, jilatin memek saya..!
Kata-kata kotor Cindy mulai keluar dan terdengar sangat merangsang libido saya. Keringat dingin Cindy mulai keluar menahan nafsunya sendiri karena saya masih belum menyentuh vaginanya dan tetap menciumi dan menjilati selangkangannya.

Cindy mengerang-ngerang dan menjerit-jerit, memohon saya untuk menggarap vaginanya dan akhirnya saya lakukan juga. Jari telunjuk saya yang sebelah kanan saya sapukan di sela-sela bibir vagina Cindy yang ternyata sudah teramat basah dan saya jilati jari telunjuk saya. Lalu dengan kedua tangan saya, saya buka bibir vagina Cindy yang sudah lengket dengan lendir kewanitaannya.

Oh.., vagina Cindy sangatlah sexy di mata saya. Di balik rimbunnya bulu-bulu kemaluan Cindy, ternyata kulit vagina Cindy bagian dalam juga berwarna pink dengan kelentitnya yang sudah amat membengkak sebesar kacang. 

Lalu saya sapukan lidah saya di belahan vagina Cindy dari atas ke bawah dan Cindy mulai menjerit kecil.
Oougghh.. Sayang, oh iya Sayang.. please, dont stop. I like that, please fuck me Darling. Please.., please..!
Cindy benar-benar sudah terangsang, dan kali ini saya jilati vagina Cindy berulang-ulang dari atas ke bawah, bawah ke atas bergantian. Saya jilat dan hisap semua lendir kewanitaannya dan saya benar-benar menyukai rasanya.

Setelah habis saya telan semua lendir kewanitaannya, bibir vagian Cindy saya buka lebar-lebar dan saya julurkan lidah saya lebih dalam ke lubang vagina Cindy. Dan setelah semua lidah saya masuk lalu saya keluarkan lagi dan saya lakukan berulang-ulang dan Cindy menyukainya.
Sayang.., keep fucking me with your tounge..! Oh yes, oughh..!

Tiba-tiba saya arahkan lidah saya ke kelentit Cindy dan saya jilat lidah Cindy sekilas tapi membuat Cindy berteriak. Cindy tidak mengira kalau lidah saya akan menjilat kelentitnya karena di situlah tempat paling sensitif buat Cindy tapi sekaligus mejadi tantangan buat saya untuk memuaskan Cindy.

Saya menjulurkan lidah saya untuk kembali mejilati kelentit Cindy. Cindy mulai menggelinjang dengan hebatnya dan menjerit kuat ketika saya menghisap kelentitnya dengan kuat. Pinggulnya terangkat dan badannya mengejang bersamaan dengan mengalirnya lahar panas yang sangat banyak dari lubang vaginanya yang sebagian juga membasahi bibir saya. Terus terang, saya menyukai orgasme yang berkali-kali dalam satu kali permainan, dan saya ingin Cindy juga merasakannya.

Maka ketika badan Cindy mulai melemah dan cairan dari vaginanya masih mengalir, saya masukkan dua jari saya ke dalam vagina Cindy sampai saya dapat menyentuh G-Spotnya. Cindy menjerit kecil ketika jari-jari saya mulai masuk ke dalam. Sambil saya jilati kembali kelentit Cindy, saya mulai mengocok vagina Cindy dengan memasukkan dan mengeluarkan dua jari saya di vagina Cindy berulang-ulang. Saya tahu kalau kelentit Cindy mulai sensitif dengan sentuhan karena Cindy berusaha untuk menjauhkan kepala saya dari selangkangannya. Tapi saya tetap menjilati dan menghisap kelentitnya sambil mengocokkan jari-jari saya di vaginanya. Tangan Cindy pun mulai berhenti meronta dan Cindy pun mulai menikmati rangsangan di vaginanya kembali.

Oouughh.. Sayang. Keep fucking me..! Oohh yes.., faster, faster, darling..!
Kocokan jari-jari saya di dalam vagina Cindy makin saya percepat dan makin dalam, begitu pula dengan hisapan dan gigitan saya di kelentitnya sampai Cindy mengalami orgasme sekali lagi dan akhirnya tubuhnya melemah. Sesungguhnya saya ingin menstimulasinya lagi agar Cindy dapat mencapai orgasme sekali lagi agar dia benar-benar puas, tapi saya kasihan melihat Cindy sudah kelelahan, dan ini pengalaman pertamanya dalam menikmati orgasme.

Cindy menutup matanya dengan napas yang masih terengah-engah dan saya memandanginya sambil membelai-belai rambutnya. Sekali-sekali saya mencium lembut pipinya. Ternyata saya benar-benar mencintai wanita ini.

Cindy tertidur pulas sampai hampir 20 menit, dan saya tidak bosan-bosannya memandangi wajahnya. Saya benar-benar tidak percaya kalau saat itu saya dapat melihat, memeluk dan mencium seluruh bagian tubuh Cindy. Saya juga hampir tidak percaya bahwa cinta saya pada Cindy tidak bertepuk sebelah tangan. Akhirnya Cindy bangun dan mengatakan bahwa ia sangat lemas dan ngantuk.
Sayang, maaf yach Cindy ninggalin kamu tidur. Cindy lemas banget tapi juga puas banget. Kamu belum yach Sayang..? Kamu mau Cindy puasin juga..? 

Tapi mata Cindy terlihat sangat mengantuk dan saya tidak mungkin tega untuk memintanya memuaskan saya. Akhirnya Cindy saya tarik dalam pelukan saya.
Ngga usah Sayang, kamu tidur aja di pelukan saya yach..!
Cindy mengangguk dan langsung tertidur lagi, saya pun akhirnya tertidur juga.

Kira-kira jam 01.00 siang kami bangun dan mandi bersama-sama. Setelah kami bercinta lagi, barulah Cindy mulai belajar memuaskan saya dan saya benar-benar puas karena memang saya sangat mencintainya. Hari-hari kami lalui dengan penuh cinta dan juga bercinta setiap ada kesempatan dan kesempatan itu setiap hari dan kami dapat melakukan 3 kali dalam sehari.

Sampai 2 tahun tidak terasa kami harus berpisah karena Cindy takut tidak dapat hidup tanpa saya. Dia memohon saya untuk membiarkannya pergi karena dia ingin belajar menjalani hidupnya tanpa saya di sampingnya karena kenyataan seperti itulah yang harus kami hadapi di kemudian hari. Kenyataan bahwa kami harus berpisah. Kalau saya masih mempunyai kesempatan untuk bertemu Cindy lagi suatu saat kelak, saya akan tetap mengatakannya bahwa saya masih mencintainya dan saya tidak akan pernah berhenti mencintainya dalam keadaan apapun di kehidupan kami.

Atikel Seru Lainya :