Rabu, 23 Januari 2013

Malam Pertama Pengantin 2

Dan jilatan itu semakin dalam dan turun kebawah diiringi geliatan-geliatan kecil tubuh dara itu yang disertai pula dengan lenguhan tertahannya manakala lidah lelaki itu telah sampai ke bawah bongkahan pantatnya yang terbuka dimana terletak lubang anusnya. Betapa tanpa rasa jijik sama sekali lelaki bajingan itu menjilati anus gadis itu, wajahnya semakin lekat saja pada celah-celah paha korbannya yang semakin keras suara lenguhannya yang teredam sumpalan kain di mulutnya menahan sensasi birahi yang tampaknya mulai bergejolak dalam tubuhnya. Kurasa lelaki itu begitu memaksa memasukkan lidahnya yang sengaja dibuat kaku menegang, apalagi lelaki itu mempunyai lidah yang panjang dari biasanya sehingga membuat anus gadis itu yang sempit serasa ditusuk-tusuk oleh daging lunak yang hangat.

Semua ini memang sama sekali tak pernah disangka oleh gadis itu yang sama sekali belum pernah mempunyai pengalaman bercinta dengan seorang lelaki apalagi hubungan intim seperti sekarang ini yang dirasakannya. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa andai saja kekasih hatinya itu yang kini telah menjadi suaminya itu mungkin akan berbuat seperti ini pula pada dirinya di malam ritual pengantin mereka. Namun kini ia harus menerima kenyataan pahit bahwa tubuh telanjangnya tengah dicumbui oleh seorang lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya, dan bahkan amat dibencinya karena telah menawan suaminya apalagi dicintainya.

Tubuh indahnya masih terkapar tak berdaya dalam posisi menggangkang kedua belah kakinya sementara lelaki itu masih terus tak henti-hentinya menjilati kedua belahan lubang di sela-sela pangkal pahanya, yakni lubang kemaluannya dan lubang anusnya. ia mulai merasa tersiksa sekali dikarenakan ternyata lelaki itu perlahan-lahan telah berhasil membuat tubuhnya yang menahan sensasi dari birahi gairah perawannya telah terpedaya oleh keahlian bercinta lelaki bajingan itu yang agaknya telah mempunyai pengalaman dalam bercinta dan menaklukkan wanita.

Setiap lekuk liku dari tubuh telanjangnya yang sensitif itu dibelai dan di elus, sehingga ketika tangan lelaki itu sudah berpindah meremas-remas kedua belah susunya yang padat berisi, montok indah menggiurkan itu kiri dan kanan, gadis ini telah lupa untuk memberontak lagi, kedua tungkai kakinya yang telah terbebas dari cengkeraman erat tangan-tangan kekar sipejantan itu masih saja terbuka lebar seakan-akan masih terpegang saja layaknya.

Berganti-gantian lidah lelaki perkasa itu mengulas lubang memek dan anus gadis itu. Semakin lama bongkahan pantat sang dara itu semakin mencuat keatas seiring dengan naiknya kedua tungkai kakinya yang semakin mengangkang. Tubuh telanjangnya menggeliat-liat hebat menahan sensasi kenikmatan yang diberikan lelaki bajingan itu kepada dirinya, sementara dari dalam tubuhnya terasa ada yang tersumbat dan ingin meledak-ledak seperti akan mau pipis saja, karena lidah lelaki itu selalu menjilati lubang yang biasanya ia selalu gunakan untuk buang air kecil ini.

Derai air mata yang membasahi kedua belah pipi dari wajah nan cantik ini telah mengering dan kini yang ada hanyalah wajah seorang gadis belia yang tengah melawan birahi pertamanya yang menuntut untuk dituntaskan dari seorang lelaki yang tak pantas meraih kenikmatan bersamanya itu. Tubuh telanjangnya melejang-lejang menawan bagi setiap lelaki yang menyaksikannya, terlebih-lebih aku yang terus melihat adegan itu tanpa berkedip sambil memegangi batang pelirku yang telah tegang setengah mati seraya mengocok-ngocoknya dengan penuh nafsu, betapa aku juga terbawa arus permainan birahi paksa tersebut. Entah kapan aku lupa saat aku memasukkan tanganku kedalam celana dan mengelus batang kontolku yang sama sekali belum pernah singgah kedalam memek gadis manapun.

"Mpphh..!! Huphf...haphf!", semakin bertubi-tubi telingaku mendengar luapan erangan dari mulut mungilnya yang tersumpal itu menambah sensasi indah adegan dari ketidakberdayaan seorang gadis yang tengah dipaksa menjalani kodratnya sebagai wanita yang harus melayani lelaki.

Sampai suatu saat terlihat tubuh telanjang gadis itu terhenti kaku seketika, jari-jari kedua belah kakinya yang indah mengatup begitu eratnya dan seketika jatuh terjuntai di atas kasur pelaminan itu dengan menopang pada lekukan jari kakinya yang masih menekuk kedalam mengacak-ngacak sprei putih dibawahnya dengan tumit terangkat, sedangkan belahan pinggulnya mencuat tinggi keatas dengan bongkahan pantatnya menjungkit diwajah lelaki itu, jeritan tertahannya memecah segenap isi ruangan kamar percintaan paksa dari kedua insan berlainan jenis, dan itulah agaknya orgasme pertama dari gadis yang masih perawan ini yang serta merta disambut gembira oleh lelaki bajingan kepala perampok itu.

Aku merasa bahwa kini selangkangan gadis itu telah luber oleh cairan lendir yang tadi telah kulihat menempel pada celana dalamnya yang masih tergantung di betisnya, hal ini dibuktikan dengan jilatan-jilatan lidah lelaki itu yang kini sangat gencar kembali menyapu pangkal pahanya yang terbuka pasrah begitu indah mempesona pada penglihatanku. Dari balik tembok aku mengamati setiap juluran lidah lelaki itu kini selalu membawa tetesan lendir yang dihasilkan oleh kemaluan sang dara cantik tersebut.
"Bagaimana manis ?? Enak bukan ?? ha.. ha.. ha.. kini kau telah merasakan betapa nikmatnya surga dunia pada malam ini bersamaku, kau sangat cantik sekali manisku.. aku ingin mencicipi lezatnya kehangatan tubuhmu malam ini sepenuhnya sayang.. hmm.. hmm.. enak sekali lendir kegadisanmu ini..", seloroh lelaki perkasa itu di sela-sela jilatan pada vaginanya. Tak satupun rasanya lelaki itu menyisakan cairan surgawi sang dara korbannya yang terus direguknya sampai licin tandas sama sekali. Lendir sari keperawanan gadis itu sampai ludes ditelan semuanya oleh bajingan yang memaksanya malam itu.

Tubuh telanjang gadis itu yang masih lemas akibat pencapaian orgasme pertama dalam hidupnya tadi langsung diangkat oleh lelaki perkasa tersebut kemudian di balikkan posisi kepalanya menghadap kepadanya yang telah berdiri dengan gagahnya. Kini tubuh telanjang dan kedua kaki gadis itu berubah posisinya yang selonjoran menghadapku, akhirnya inilah yang aku tunggu! Betapa kini aku dapat menikmati paha putihnya yang sedari tadi hanya dapat kulihat lebih jelas melalui pantulan cermin disana.

Kulit kakinya begitu indah dan ramping mulus dengan kuku-kuku kakinya terhias oleh kutek bening kebiruan yang transparan berkilat indah dibalik stocking hitamnya yang seperti jala-jala kecil itu. Namun kedua belah kaki itu masih berselonjor rapat serta belum terbuka, sehingga aku kesulitan melihat isi kemaluannya yang masih berupa garis vertikal yang rapat di antara bulu-bulu kelamin yang mengelilinginya.

Terlihat batang kontol lelaki itu baru agak menegak keatas yang baru separuh ereksi dengan rimbunan bulu jembut yang begitu lebat dan perkasa dihadapan wajah gadis cantik itu yang dipaksa tengadah. Sambil membuka dagu lancip gadis belia nan cantik itu sehingga bibir mungilnya terbuka, lelaki itu tampaknya terlebih dahulu akan memerawani mulutnya yang telah ia lepas sumbatan kainnya seraya mengacung-acungkan parangnya ke atas kepala korbannya, sehingga tak sepatah kata keluar dari bibirnya yang ketakutan setengah mati.

"Ayo! Keluarkan lidahmu sekarang manisku.. kini jilatilah kedua biji kejantananku ini sayang.. dan jangan macam-macam!!", hardik lelaki jahanam itu yang telah menyorongkan selangkangannya ke mulut mungil sang dara korbannya.

Dengan takut-takut gadis itu menuruti perintah lelaki bajingan itu mengeluarkan lidah kecilnya yang memerah, lalu dengan perlahan mendekati pangkal kedua buah pelir yang tergantung itu. Lelaki itu dalam penglihatanku juga merasakan sensasi yang nikmat manakala lidah mungil gadis belia itu menyentuh permukaan kulit biji pelirnya yang dihiasi dengan bulu-bulu jembut kasarnya. Begitu terasa hangat dan lembut baginya untuk lidah seorang perawan pada kejantanannya itu.

"Ketahuilah manisku.. bahwa aku berbahagia sekali mendapatimu malam ini, karena rupanya suamimu sama sekali belum pernah menjamah tubuhmu ini.. lama sekali aku menantikan saat-saat seperti ini.. saat dimana aku dapat mencicipi kehangatan serta kenikmatan dari tubuh seorang gadis belia sepertimu.. dan aku senang sekali bahwa kau telah menjaga dengan baik kesucianmu.. maka izinkan aku untuk mencicipi lezatnya rasa keperawanan itu dari tubuhmu ini.. ouh!", demikianlah curahan hati lelaki yang tengah dilanda nafsu terpendamnya untuk merasakan kehangatan dari kemaluan gadis belia yang masih suci.

Masih belum terdengar suara balasan terucap dari bibir mungil milik gadis itu untuk menanggapi kalimat yang dilontarkan bajingan perkasa tersebut, namun tanpa menunggu jawaban itu keluar, lelaki itu kini telah membuka paksa dagu sang dara korbannya, sampai bibir indah yang meranum itu merekah dan perlahan ia menjejali mulut mungil si gadis dengan kepala kejantanannya yang kini telah ereksi penuh dan mengacung tegak. Begitu besar dan panjang kontol lelaki itu yang dua kali ukuran kepunyaanku ini. Urat-urat tonjolannya begitu nyata bersemburat dari balik permukaan kulit batang pelir lelaki itu, benar-benar lelaki itu seorang lelaki pejantan yang akan membuat gadis ini akan bertekuk lutut dan pahanya sebentar lagi.

Lenguhan demi lenguhan yang keluar dari belahan bibir seorang dara yang tak berdaya ini mengiringi setiap jejalan urat pelir lelaki itu yang semakin dalam memasukki rongga mulutnya serta menembusi pula kerongkongannya, hingga pada akhirnya hidung gadis itu yang mancung telak beradu dengan kedua biji pelir berbulu lelaki itu yang masih tergantung dengan gagahnya. Kini mulut mungil dara itu telah diperawani olehnya dan batang kejantanannya yang besar dan panjang itu telah basah didalamnya oleh ludah sang gadis suci itu. Pastilah gadis itu telah mencium pula aroma dari batang pelir gagah sang bajingan pemetik bunga ini, walaupun dengan keadaan terpaksa untuk menerimanya secara pasrah demi keselamatan sang suami yang tertawan oleh para perampok jahanam tersebut.

Setelah itu lelaki itu mulai membuat batang pelirnya keluar masuk dalam mulut mungil sang mempelai wanita yang telah terjejal penuh sesak oleh daging kejantanannya ini. Kulirik arlojiku dipergelangan tanganku, sepuluh lewat seperempat dan baru setengah jam waktu berlalu. Tak tahan menyaksikan adegan tersebut aku berlalu untuk pipis dulu sejenak di kamar kecil lantai bawah, sengaja tak kusiram agar tak terdengar suara gemericik cebokkan air, bahkan aku sampai pipis jongkok agar deru air seniku teredam. Dan ketika aku kembali melaksanakan aksiku mengintip dari celah lubang dinding itu, aku kini telah dapat melihat bagian intim dari gadis itu yang selama ini telah tersembunyi dariku.

Kini kedua tungkai kaki kiri dan kanan gadis itu dipegangi oleh lelaki itu sebagai acuan untuk mendorong tubuh telanjangnya sehingga mulutnya dapat terus dijadikan sebagai ajang nafsu untuk melayani pelir lelaki itu yang terus merojok-rojok isi kerongkongannya. Gaun bagian bawah dari busana pengantinnya telah tersibak lagi sampai mengelilingi pinggangnya yang begitu ramping memukau. Otomatis kedua belah kaki itu kini mengangkang lebar pada penglihatanku yang pada akhirnya membuatku dapat melihat lubang sang perawan beserta lubang anusnya begitu terpampang jelas di antara selangkangannya yang begitu putih mulus indah nan bersih terawat.

Kedua lubang itu telah basah oleh ludah lelaki itu dan kini terlihat berkilat-kilat diterpa cahaya lampu kamar peraduan tersebut. Manakala lelaki itu tengah menarik kedua tungkai gadis itu, maka otot panggul gadis itu ikut tertarik sehingga menarik pula belahan bibir kemaluannya dan terkuak sedikit dan secara bersamaan pula aku dapat melihat isi didalam belahan keintiman gadis belia cantik ini yang begitu tiada cacat dan celanya.

Gerakan-gerakan yang membuat belahan bibir kemaluan berbulu basah gadis itu membuka dan menutup semakin memperjelaskanku akan apa yang terlihat pada isi dalamnya yang masih sempit memerah serta sudah agak lembab membasah setelah orgasmenya tadi. Dibalik belahan bibir luar dari memek gadis itu yang terbuka mengangkang, terdapat pula bibir dalamnya yang masih mengatup rapat dan hanya menyisakan lubang kecil sebesar ujung jari kelingking.

Aku melihat selaput keperawanan gadis itu terpampang menjaga jalan masuk di sekitar lubang kecil tersebut. Kegadisan yang selama ini betapa telah dijaga dan begitu dirawatnya dengan sangat hati-hati sekali agar kelak dapat dipersembahkan secara utuh kepada sang suami tercinta, namun kini telah terhidang secara paksa untuk melayani dan memuaskan kepala rampok itu sebagai tebusan keselamatan suaminya yang terkasih.

Tangan rampok yang tadi mencengkeram tungkai kaki kanannya semakin berani saja beraksi, kini tangan itu telah berpindah pada permukaan celah kewanitaannya yang masih berbentuk garis membujur yang rapat dihiasi oleh jembutnya nan merangsang. Perlahan jari tengahnya yang besar dan berkulit kasar milik lelaki itu menyusup pada belahan selangkangan korbannya yang sangat intim serta menemukan tonjolan daging klentitnya yang bermuara pada bulu-bulu kelamin gadis itu. Tak ayal lagi, klitoris gadis itu yang membasah menjadi sasaran empuk bagi jari-jari itu untuk menari-nari diatasnya. Gadis itu mengerang kegelian diperlakukan seperti itu, dan memang bagi setiap wanita, bagian itu adalah hal yang paling sensitif untuk membangkitkan hasrat dan gairah terlarangnya.

Aku turut menikmati bagaimana dalam setiap gesekan turun naik yang dilakukan oleh jari pria itu pada itilnya memberi pengalaman dan sensasi baru pada korbannya. Dan belahan vagina si perempuan semakin terbuka secara alami dengan adanya kuakkan yang dilakukan oleh jari yang tenggelam didalamnya. Daging klentit korbannya semakin lama semakin bengkak dan memerah berlumur cairan memeknya yang merembes dari lubang keintimannya itu.

Akankah nantinya dara belia ini akan mampu melayani kehendak dari lelaki perkasa tersebut? Mampukah vagina gadis muda duapuluhan tahun ini menerima kehadiran batang pelir sang lelaki gagah ini ?? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kini memenuhi otakku disela-sela permainan birahi penuh paksa terhadap seorang gadis muda belia nan cantik sempurna yang tak lama lagi akan dipaksa melewati malam pertamanya bukan dengan suaminya nan tercinta, tetapi dengan sang kepala perampok durjana tersebut.

Mungkin sangat enak sekali apabila batang kontolku berada dalam mulut gadis itu, tetapi semuanya itu hanyalah fantasiku belaka saja, melalui pikiranku aku hanya dapat membayangkan kehangatan dari rongga mulut wanita muda itu yang basah tengah mengulum pelirku dan menjilati kedua bijiku pula. Akan enak sekali apabila ditambah dengan lidah mungil dara itu yang turut menari-nari di dalamnya mempermainkan batang


kontolku di dalam. Ahh.. membayangkan hal tersebut membuat celanaku kini semakin basah oleh cairan pelumas yang berasal dari ujung lubang kontolku ini. Tetapi aku masih sayang untuk mengeluarkan air maniku, karena aku masih yakin sekali bahwa lelaki durjana itu tak akan melepaskan begitu saja korbannya sebelum berhasil menggarap tubuh dara belia ini. Sedangkan jari tengahnya itu masih saja tak henti-hentinya memainkan daging kelentitnya yang telah menegang kencang.

Hanya lima menit saja kulihat lelaki itu mempermainkan batang zakarnya memperkosa mulut gadis belia korbannya, sebab akupun menyaksikan mulut dara itu begitu menganga lebar membentuk bulatan dengan penis yang menjejali keluar masuk melewati celah-celah bibir mungilnya nan indah menawan dan merangsang kelelakianku pula. Nafas keduanya memburu seisi ruangan dan aku mulai merasa dari celah lubang itu terasa hawa pengapnya mulai terasa sekali diantara tersengalnya nafas sang dara jelita yang kerongkongannya tersumbat oleh kejantanan si garong. Erangan dan lenguhan silih berganti keluar dari mulut sang perawan belia ini ketika melayani lelaki tak dikenalnya itu sebelum akhirnya tibalah pada saat yang telah lama kuidam-idamkan.

Sang lelaki perkasa mencabut batang zakarnya yang telah berlumur air ludah dari mulut mungil dara cantik tersebut serta melepas pula jarinya dari klentit itu. Kelihatan sekali sisa-sisa ludah gadis itu telah membuat tonggak dagingnya semakin berkilat-kilat membasah dari ujung sampai kepangkalnya, juga lendir kemaluan dara itu telah menempel pada jari tangannya yang menggosok itilnya. Batang kontol perkasanya telah tegak mengacung menjawab tantangan birahi sang perawan.

Lelaki kepala rampok itu segera berpindah posisinya setelah tadi berdiri menghadapku, kini ia seakan berjalan dan menghadap kearahku. Rasanya tak akan ia memergokki aksiku, karena aku tahu bahwa ia sudah cukup terangsang oleh ritual pemanasan hubungan intim yang diberikan secara paksa oleh si gadis. Dengan punggung kekarnya yang telah membelakangiku, ia menaikki ranjang peraduan yang tadinya sengaja disiapkan untuk malam pertama dari ritual pasangan suami istri baru itu.

"Ayo manis.. bukalah pahamu sekarang..", pinta lelaki itu.
"Ahh.. jangan!! Belum puaskah engkau setelah tadi kau mempermainkan tubuhku?! Mau apalagi kau sekarang bajingan?!", air mata gadis itu mulai meleleh lagi membanjiri kedua pipi dari wajahnya yang begitu menjanjikan birahi setiap pria.

Wahh..gadis itu sudah berani melawan, pikirku.

"Aku bilang buka, yah buka!! Kau berani membantah, hah?!", bentak garong itu.
"Aku tidak mau!!", teriak gadis itu sambil beringsut ke pinggir ranjang serta menekuk kedua kaki indahnya yang mempesonaku. Tubuhnya semakin meringkuk di sudut tepian tonggak kayu penyangga kelambu ranjang pengantinnya.
"Coy!! Matiin!!", teriak lelaki itu kencang sekali memecah kesunyian malam hingga didengar oleh anak buahnya yang berada dilantai bawah.
"Ohh! Tidakk!! jangan lakukan!!", tangis gadis ini membahana di antara rontaan kedua belah tangannya yang asih terikat tak berdaya di punggungnya. Namun tetap saja sia-sia, karena ikatan tambang itu begitu kuat mengikatnya.
"Rasain!!..", pekik kepala garong itu, namun kali ini ia menarik dengan kasar celana dalam yang masih terkait di betis kiri korbannya yang menolaknya hingga robek, kemudian menyumpal mulut mungil dara itu dengan kain celana dalam gadis itu sendiri.
"Ouhfh... aaufh... mmpphhf!", percuma saja ia berteriak, karena mulutnya sudah tersumbat lagi kini.

Karena memang lelaki itu sudah niat sekali untuk memperkosanya, maka tubuh dara itu kini ditariknya, tangan kekarnya kembali menangkap kaki kiri gadis itu kemudian melucuti stocking hitamnya, lalu mengikat kakinya itu dengan utas tambang tepat menghadap kearahku. Tampak dalam penglihatanku telapak kaki mulus milik dara itu yang telah telanjang meronta-ronta saat diikat, apalah daya seorang wanita lemah seperti dirinya melawan tenaga dari lelaki tegap ini.

Sebentar saja kedua belah kakinya telah tergantung di tiang kelambu kiri dan kanan ranjang itu, bergerak-gerak dalam rontaannya yang tersia-sia. Ditariknya untaian kalung emas yang melingkar dileher jenjang gadis itu, juga gelang emas dikakinya dibetot sampai putus, kemudian dilempar oleh garong itu ke meja rias kamar itu. Mahkota pengantinnya juga dilucuti paksa serta sisa gaun pengantin yang melingkar dipinggangnya di cabik-cabik dengan sangat kasarnya oleh bajingan terkutuk itu.

Kini kedua tubuh kedua insan berlainan jenis kelamin itu telah terpampang telanjang dimukaku, betapa sempurna bentuk tubuh keduanya itu. Tubuh pria berkulit gelap ini sangat kontras warnanya dengan tubuh putihnya gadis itu yang mulus, betapa yang satu begitu tampak kasar dan perkasanya, sedangkan yang satunya lagi begitu halus kulitnya, benar-benar serasi dipandang mata. Aku terkagum-kagum dengan bentuk tubuh keduanya diantara merambahnya sang malam yang tengah menuju ke pukul setengah sebelas malam. Kusaksikan lelaki itu telah menempatkan dirinya diantara kedua belah kaki dara itu yang sudah terkangkang dengan kedua lubang ditubuhnya terlihat jelas olehku.

Dengan menggunakan kedua ibu jarinya, lelaki itu menyibakkan bulu-bulu jembut sang gadis belia nan begitu menawan, dikuakkannya belahan bibir vertikal yang berbentuk aluran indah lubang surga itu, membuatku dapat pula menyaksikannya lagi isi dalamnya yang masih lembab dan memerah lengkap beserta kelentit basahnya yang telah membengkak. Menggairahkan sekali isi belahan daging kemaluannya yang direkahkan, sayang sekali aku hanya dapat melihatnya tanpa dapat menyentuh atau merabanya, apalagi menikmatinya. Isi dalam liang sanggama kepunyaan gadis itu masih terdapat sisa-sisa rembesan lendir surgawinya, bibir dalamnya agak berkedut-kedut saat lelaki itu mengintip memeknya, saking takutnya gadis itu tanpa sengaja menggerak-gerakkan otot vaginanya untuk menolak apa yang akan dilakukan sebentar lagi dari lelaki bajingan itu kepadanya.

"Kau adalah gadis tercantik yang kuanggap pantas untuk melayaniku.. bersiaplah sayang.. karena kau akan menemaniku malam ini dan aku akan menikmati keindahan dan kehangatan tubuhmu ini manisku.. ha.. ha.. ha", tawa kemenangan lelaki itu telah di depan mata sudah, seraya menatap tubuh telanjang gadis itu yang kini telah terentang tanpa daya lagi terikat di atas ranjang miliknya sendiri.

Kepala batang kontolnya yang besar dan panjangnya dua kali lipat dari ukuranku itu telah diarahkan tepat pada jalan masuk dari liang sanggama gadis itu yang telah terbuka paksa oleh kedua ibu jarinya. Ujung daging kejantanan lelaki itu kini telah bersentuhan dengan kulit luar dari celah bibir memeknya yang ranum. Lendir diujung pelir lelaki itu telah bertemu dengan lendir vaginanya yang terkuak. Memek gadis itu benar-benar telah terhidang baginya sekarang. Ia akan segera melakukan sesuatu hal yang tak pantas dan sepatutnya disaksikan oleh orang lain terhadap diri gadis itu, dimana ia akan menggauli korbannya itu dengan memasukkan batang pelirnya kedalam liang kewanitaannya sebagai perwujudan dari pelampiasan nafsu binatangnya itu.

Pinggul lelaki itu kini telah terapit oleh sepasang kaki indah milik sang dara yang terikat membentang lebar dalam posisi mengangkang siap untuk segera dibuahi rahimnya. Aku teringat akan lendir yang melekat pada celana dalam gadis itu tadi, bukankah itu menandakan dirinya dalam keadaan subur sekarang? Agaknya lelaki laknat itu memang telah menginginkannya untuk tujuan itu pulakah?

Posisi keduanya kini menggugah birahiku yang sejak tadi juga telah kutahan-tahan, dan inilah saatnya aku juga akan turut menikmati kesenangan lelaki bajingan itu terhadap gadis belia cantik itu,demikian pula halnya dengan diriku. Bukannya rasa iba atau kasihan yang keluar dari dalam lubuk hatiku, namun aku semakin senang dengan penderitaan yang akan dialami seorang gadis belia nan suci yang sebentar lagi akan segera kehilangan keperawanannya bersama lelaki bajingan itu. Kutelanjangi juga diriku dan kejantananku telah kupegang erat dengan tanganku siap pula untuk bermasturbasi sambil menyaksikan tubuh sepasang insan tersebut.

Perlahan lelaki itu menghentakkan pinggulnya untuk yang pertama kalinya, namun gagal! Kepala pelirnya malah meleset ke sisi kiri dari lubang memek gadis itu dan hanya menghantam jembut gadis itu yang rimbun. Kembali lelaki itu menempatkan kontolnya ke lobang memek belia sang dara, tetapi tatkala dihentakkan lagi, masih juga mengalami kegagalan. Pada setiap hentakkannya diiringi jeritan tertahan dari gadis belia nan malang yang tengah dipaksa penuh untuk melewati malam pertamanya bersama lelaki bajingan tersebut.

"Oughh...! Aaghh!", begitulah rintihnya dalam sumpalan celana dalam pada mulutnya.

Meskipun begitu tak membuat lelaki itu menghentikan aksinya, malahan ia semakin terus mengulangi hentakkannya kembali berusaha keras menembus keperawanan dari gadis belia yang menjanjikan sejuta kenikmatan baginya. Berkali-kali ujung kepala batang pelir nan besar lelaki itu terus menghujam kearah jalan masuk lubang surga sang mempelai pengantin wanita ini, namun selalu sia-sia, bahkan kontol lelaki itu seketika berubah arahnya melenceng ke kanan maupun ke kiri, sekali-kali keatas menggesek pangkal klentitnya yang semakin basah oleh birahi nikmat yang mulai ditawarkan lelaki itu padanya, juga kadang meleset kebawah melesak-lesak ke lobang pantatnya serta menyodok pula anusnya.

Begitu sakit! Sangat pedih dan rasa perih yang tak terkira! itulah yang selalu dirasakan gadis itu setiap kali lelaki itu menghentakkan pantatnya berusaha memasukkan batang pelirnya yang tegak penuh dengan urat-urat kejantanannya yang begitu perkasa. Andai kata mulutnya tidak terbungkam seperti sekarang ini, mungkin ia telah mengaduh-aduh meminta ampun kepada lelaki bajingan yang berbuat hal nista ini pada dirinya. Ia hanya pasrah saja menerima perlakuan sang durjana pemetik bunga itu laksana seorang budak nafsu yang rendah dan sangat hina saja layaknya.

Kedua matanya terpejam agak membengkak dan sembab oleh tangisan derai air mata pilu dari hatinya yang telah remuk redam. Betapa tidak..kini sang suami tercintanya telah tewas ditangan perampok-perampok kejam nan buas dan tak berperikemanusiaan ini, sedangkan kini dirinya sedang menghadapi hal yang paling menakutkan bagi hidupnya, yakni ia akan segera kehilangan kehormatannya sebagai wanita baik-baik. Miliknya yang paling berharga dalam kehidupannya yang telah ia jaga dan dirawatnya dengan sangat hati-hati sekali itu, yakni keperawanannya akan ia relakan sesaat lagi dibawah ancaman dan paksaan penuh lelaki tak diundang itu.

Bibir memeknya terasa panas dan membengkak akibat terus menahan kegagalan dari upaya lelaki itu yang memaksa agar dapat segera memasukki tubuh telanjangnya yang sudah terkapar kehabisan tenaga perlawanannya ini. Jari-jari kaki indahnya yang terikat ditiang kelambunya itu tampak mengatup saking menahan rasa nyeri yang melanda bibir kemaluannya, padahal belum lagi pelir lelaki itu menembus kegadisannya. Ternyata begitu sulitnya untuk memerawani seorang wanita di malam pertamanya, meskipun aku melihat dengan mata kepala sendiri betapa kemaluan gadis itu dan kepala pelir lelaki itu telah sama-sama dalam keadaan licin dan basah oleh masing-masing cairan lendir senggamanya. Tadinya aku sama sekali tidak percaya dengan obrolan orang-orang yang baru berhasil memerawani istrinya setelah lewat malam ketujuh, tetapi kini aku tak menyangsikannya lagi hal itu.

Dari balik celah dinding itu aku melihat peluh yang melekat pada tubuh telanjang kedua insan tersebut mulai bercucuran membasahi arena permainan terlarang yang akan tergelar sekaligus menuntaskan hasrat si bajingan tengik itu yang ingin menodai seorang dara belia. Belum lagi kesucian gadis itu terenggut, tubuhku telah kejang-kejang bermandikan keringatku sendiri yang telah didera oleh orgasme si bujang lapuk. Air maniku seketika menyemprot-nyemprot dinding kamarku sendiri akibat tak tahan menyaksikan keintiman mereka, sementara dibalik tembok yang bisu itu disebelah sana masih terlihat usaha lelaki bajingan itu untuk menyetubuhi sang gadis suci. Aku menahan tubuh telanjangku yang telah lemas untuk terus berdiri menyaksikan terus segenap adegan terlarang dari keduanya yang sudah berada diambang pintu kemaksiatan.

Suatu saat entah sudah pada hentakkan untuk yang keberapa kalinya, kepala pelir kejantanan lelaki itu nan begitu perkasa yang selama ini terus masih meleset-leset, kini berhasil tertahan pada kedua belah bibir kemaluan sang gadis muda. Ujung kepala kontolnya tampak telah terjepit dengan daging pelirnya berhasil menempel pada celah lubang memek kepunyaan gadis itu yang masih tampak menganga seukuran ujung jari kelingking orang dewasa.

"Arghh!", jerit gadis itu yang semakin merasa pedih dan ngilu pada bibir belahan organ intimnya yang selama ini sama sekali belum pernah disetubuhi oleh lelaki, selain hanya dipergunakannya sebagai alat untuk keperluan buang air kecil semata saja, tapi kini dipergunakan lelaki itu untuk dijadikan sebagai ajang pelampiasan nafsu badaniahnya yang telah meledak-ledak merambati ubun-ubun kepalanya.

Kesempatan itu tak akan disia-siakan lagi oleh sang lelaki jahanam yang kini telah berada diatas angin dan perlahan-lahan pula daging kepala kejantanannya yang telah separuh terjepit oleh daging memek gadis itu yang memberi sensasi kehangatan pada ujung kontolnya mulai ia benamkan sedikit demi sedikit kedalam lubang surga ditubuh gadis belia yang terkangkang telanjang begitu sangat indahnya menawan hati bagi siapapun yang melihatnya. Lambat laun belahan daging indah berbulu basah gadis itu terkuak mengikuti setiap laju desakkan dari otot-otot keperkasaan lelaki itu yang menyeruak kedalam isi lubang sanggamanya diikuti pula dengan jepitan selaput daranya yang mulai mengurut-urut daging kepala pelir itu.

"Slep.. slep.. blessek..!", begitulah bunyi decikkan pertemuan kedua kelamin itu yang kudengar begitu vulgar dan penuh erotis membangkitkan adrenalinku.

Lelaki itu benar-benar meresapi sensasi luar biasa akibat jepitan selaput dara sang gadis jelita yang masih muda belia ini dan akhirnya perlahan tapi pasti pangkal kejantanannya yang dihiasi oleh kedua biji pelirnya telah melekat pada bongkahan pantat bagian bawah selangkangan gadis itu serta melekat disitu menutupi lubang anusnya. Ini berarti tubuh keduanya telah menyatu sudah dan kepala zakar lelaki itu telah menembus pula sampai mentok ke dasar liang kegadisan sang pengantin wanita yang masih sangat muda ini, tetapi telah cukup matang untuk digauli lelaki.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar